Menparekraf : Ekonomi Kreatif Solusi Pemulihan Ekonomi Nasional

Jakarta (7/4/2021). Menyiasati penurunan ekonomi pariwisata pada masa pandemi Covid-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya mendukung ekonomi kreatif melalui berbagai kegiatan pelatihan terutama di bidang ekonomi pariwisata. Pasalnya, pemulihan ekonomi pariwisata menjadi salah satu instruksi pemulihan ekonomi nasional.

“Kementerian sudah melaksanakan beberapa kali pelatihan ekonomi kreatif dan pariwisata. Sektor ini merupakan penopang untuk pemulihan ekonomi nasional,” ujar Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), saat memberikan materi secara daring di Munas IX LDII, Rabu (7/4/2021).

Sandiaga menyitir hadits tentang sebaik-baiknya manusia yakni yang bermanfaat bagi orang lain.  Hal ini juga berlaku bagi organisasi yang baik dapat memberi manfaat bagi bangsa dan negara. Sehingga semua pihak diharapkan bisa memberikan sumbangsih. “Di tengah pandemi ini, kita harus yakin dibalik kesulitan disitu ada Allah yang tidak pernah bosan memberikan jalan keluar,” urainya.

Sementara, Indra Cahya Uno, Co-Founder Oke Oce Indonesia mengatakan, Indonesia menjadi produsen pengangguran tertinggi selama 10 tahun terahir. Hal ini terlihat dari belum berkurangnya angka pengangguran di usia muda. Hal ini juga berlaku bagi negara di kawasan Asia Tenggara,. Anggapan dengan pendidikan tinggi tidak menjadi jaminan mendapatkan pekerjaan yang mapan.

“Produktif tidak hanya usia tapi manusianya minimal bisa menghidupi diri sendiri. Kalau tidak segera memangkas angka pengangguran bisa jadi di tahun 2030-2040 menjadi puncak bencana demografi bukan bonus demografi,” ujarnya.

Kakak Sandiaga Uno ini menambahkan, lebih dari 800 ribu sarjana menganggur setiap tahun. Hal ini terjadi sejak tahun 2015 sampai sekarang. Tahun lalu, terdapat 840 ribu sarjana dan diploma yang antri pekerjaan. Dengan fakta tersebut sulit dibayangkan Indonesia bisa bangkit.

Indra mengungkapkan, ada empat solusi untuk mengatasi pengangguran. Pertama, pelatihan dan pendampingan usaha, dimana setiap orang harus mendapatkan akses pelatihan pada dunia usaha. Akses ini diberikan sejak kelas 1 SMA, sehingga ketika lulus punya keahlian. Kedua, membuka usaha yang dapat mendatangkan penghasilan. Tujuannya selesai pelatihan, mereka mampu membuka usaha, seperti menjadi agen, dropshiper bahkan grosir. Ketiga, terhindar dari ancaman pengangguran, setelah mendapatkan penghasilan maka akan terbebas dari statisitik pengangguran.

“Keempat, menciptakan satu lapangan kerja untuk diri sendiri, yang merupakan tujuan dari empat tahapan mengatasi pengangguran. Ini yang disebut sebagai pola pikir kewirausahaan,” urainya.

Saat ini, imbuh Indra, Indonesia memiliki 100 juta orang miskin dan tidak memiliki kontribusi terhadap negara. Pasalnya, hidup mereka tergantung pada orang lain. Bahkan, 10 juta orang diantaranya belum  memiliki penghasilan. (fadel)